Mutiara Hadits
Home Kajian Tafsir Tafsir Surah al-Fatihah (12)
Tafsir Surah al-Fatihah (12) PDF Cetak E-mail

(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (al-Fatihah : 7)

Firman Allah Ta’ala yaitu {Shirathalladziina An'amta 'alaihim?}adalah sebagai tafsir dari firman-Nya (Shiratal Mustaqim/jalan yang lurus), dan merupakan badal[1] menurut para ahli nahwu dan boleh juga sebagai athaf bayan[2]. Wallahu a’lam

Orang-orang yang diberikan nikmat oleh Allah itu adalah orang-orang yang tersebut dalam surat an-Nissa, Allah berfirman:

Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui. (an-Nissa : 69-70)

Firman Allah (Ghairil Maghdhuubi 'alaihim wa laadh Dhaalliin?) artinya bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (al-Baqarah : 7), jumhur ulama membaca “ghoiri” dengan memberikan kasrah pada huruf ra’ dan kedudukannya sebagai na’at (sifat).

Maka ayat ke-7 dari surat ini memiliki makna tunjukilah kepada kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engaku karunia nikmat kepadanya, yaitu mereka yang memperoleh hidayah, istiqomah, dan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, serta mengerjakan perintah-Nya serta meninggalkan larangan-Nya. Bukan jalan orang-orang ynag mendapat murka, yang kehendak mereka telah rusak sehingga meskipun mereka mengetahu kebenaran, namun menyimpang darinya. Bukan juga jalan 0rang0rang yang sesat, yaitu orang-orang yang tidak memiliki ilmu pengetahuan, sehingga mereka berada dalam kesesatan serta tidak mendapatkan jalan menuju kebenaran.

Sumber :

http://quran.al-islam.com/

Footnote

 

[1] Badal adalah merupakan Isim (kata benda) yang mengikuti isim sebelumnya dalam hokum bacaan.

[2] Athaf bayan adalah Isim yang mengikuti kepada isim sebelumnya, berupa jamid (isim yang bukan berasal dari kata kerja yang berfungsi seperti na’at (siffat/Keterangan) dalam menjelaskan makna yang di maksudkan isim tersebut kedudukannya dari isim yang di-ikuti seperti kedudukan kalaimat atau kata asing sebelumnya.

 
Artikel Lainnya
RocketTheme Joomla Templates